, ,

Suku Dani Bahas Solusi Terhadap Pengungsi Pasca Konflik Topo–Urumusu

by -719 Views

NEWS ARSO – Para tokoh adat Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menggelar pertemuan khusus untuk membahas solusi terhadap pengungsi pasca konflik antara kelompok Topo dan Urumusu yang terjadi beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut berlangsung di Wamena, Minggu (12/10/2025), dan dihadiri oleh perwakilan tokoh masyarakat, gereja, aparat keamanan, serta perwakilan pemerintah daerah.

Konflik di Yahukimo Papua: Kematian eks bupati, hoaks, hingga ribuan  mengungsi', mengapa konflik antarsuku rawan terjadi? - BBC News Indonesia
Suku Dani Bahas Solusi Terhadap Pengungsi Pasca Konflik Topo–Urumusu

Konflik yang sempat pecah di wilayah perbatasan dua kampung adat itu mengakibatkan puluhan warga mengungsi ke daerah yang lebih aman. Hingga kini, sebagian dari mereka masih menempati pos penampungan sementara di pinggiran kota Wamena.

Baca Juga : Basarnas Jayapura Masih Cari Nelayan yang Hilang Dari Atas Perahu

“Pertemuan ini penting agar masyarakat bisa kembali hidup damai. Kami ingin semua pihak duduk bersama mencari solusi tanpa kekerasan,” ujar Yulius Wenda, tokoh adat Suku Dani, usai pertemuan.


Pemerintah Daerah Dukung Pendekatan Adat untuk Rekonsiliasi

Bupati Jayawijaya John Banua menyatakan dukungannya terhadap upaya damai yang diinisiasi oleh para tokoh adat. Menurutnya, pendekatan kearifan lokal Suku Dani terbukti efektif dalam menyelesaikan konflik horizontal di wilayah pegunungan.

“Kami mengedepankan jalan damai melalui musyawarah adat. Pemerintah siap memfasilitasi, terutama untuk pemulangan para pengungsi dan pemulihan sosial ekonomi mereka,” kata Banua.

Dalam kesempatan itu, pemerintah juga memastikan bantuan logistik dan layanan kesehatan tetap disalurkan kepada warga yang masih mengungsi. Dinas Sosial Jayawijaya mencatat, lebih dari 80 kepala keluarga terdampak akibat konflik tersebut.


Gereja dan Aparat TNI-Polri Turut Fasilitasi Dialog Damai

Selain tokoh adat, pemuka gereja dan aparat keamanan turut berperan aktif dalam mempertemukan kedua belah pihak yang bertikai. Mereka berharap adanya kesepakatan damai permanen yang disertai komitmen untuk tidak mengulangi tindakan kekerasan.

“Kami ingin perdamaian yang tulus, bukan sekadar perjanjian di atas kertas. Gereja siap menjadi jembatan bagi proses rekonsiliasi,” ujar Pdt. Markus Hubi, perwakilan Persekutuan Gereja di Tanah Papua (PGTP).

Aparat TNI-Polri di wilayah Jayawijaya juga terus melakukan pendekatan persuasif dan menjaga keamanan di lokasi konflik agar tidak terjadi bentrokan lanjutan.


Pemulangan Pengungsi Jadi Fokus Utama

Salah satu poin penting hasil pertemuan adalah rencana pemulangan pengungsi secara bertahap. Namun, para tokoh adat menegaskan bahwa pemulangan hanya akan dilakukan jika situasi benar-benar kondusif.

“Kami tidak mau terburu-buru. Keselamatan warga adalah prioritas utama. Setelah semua sepakat damai, barulah mereka bisa kembali ke kampung,” jelas Yulius Wenda.

Selain pemulangan, pemerintah daerah bersama lembaga kemanusiaan juga akan membantu pembangunan kembali rumah warga yang rusak akibat konflik, serta memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak dan perempuan.


Harapan Baru bagi Warga Pegunungan Tengah

Langkah inisiatif Suku Dani dalam memediasi konflik ini menjadi cermin kearifan lokal Papua yang mengedepankan dialog dan persaudaraan.
Melalui pertemuan tersebut, masyarakat berharap konflik Topo–Urumusu dapat menjadi yang terakhir dan menjadi pelajaran penting dalam menjaga keharmonisan antar kampung.

“Kami semua saudara. Tidak ada yang menang atau kalah. Yang penting sekarang adalah hidup damai dan membangun kembali kampung,” pungkas Yulius Wenda.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.