, ,

Paul Sudiyo, 48 Tahun Membina Pendidikan di Pedalaman Papua Berawal dari Tawaran Gaji

by -435 Views

NEWS ARSO Selama hampir setengah abad, nama Paul Sudiyo dikenal luas sebagai sosok pendidik dan pelayan masyarakat di pedalaman Papua. Kisah pengabdiannya bermula dari alasan sederhana: tawaran pekerjaan dengan gaji 20 kali lebih besar dibandingkan pekerjaannya saat itu. Namun siapa sangka, keputusan tersebut mengantarnya pada perjalanan hidup yang penuh dedikasi, bertahan hingga 48 tahun.

RRI.co.id - Paul Sudiyo, Misionaris Domestik Melayani dengan Ketulusan
Paul Sudiyo, 48 Tahun Membina Pendidikan di Pedalaman Papua Berawal dari Tawaran Gaji

Awal Perjalanan: Tertarik Gaji, Lalu Terpanggil Hati

Pada awal tahun 1970-an, Paul—yang saat itu masih berusia dua puluhan—menerima tawaran untuk bekerja di wilayah pedalaman Papua. Tawaran tersebut menjanjikan penghasilan jauh lebih besar dari yang ia peroleh di Jawa.

Baca Juga : DK PBB Setujui Pasukan Internasional Sementara Gaza

Saya awalnya datang karena tawaran gaji. Itu saja. Tapi setelah tinggal di sini, hati saya berubah. Masyarakat Papua menerima saya seperti keluarga,” ujar Paul mengenang.

Ia memulai tugasnya sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah misi. Kondisi kala itu jauh dari layak: bangunan seadanya, peralatan belajar minim, dan akses menuju kampung hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki berjam-jam atau menggunakan perahu kecil.


Hidup Bersama Warga, Bangun Pendidikan dari Nol

Seiring waktu, Paul bukan hanya mengajar, tetapi juga ikut terlibat dalam pembangunan fasilitas dasar. Ia membantu merintis sekolah darurat, mengajari anak-anak membaca, hingga mendampingi program kesehatan masyarakat.

Banyak anak yang pertama kali bisa membaca karena Pak Paul. Dia bukan hanya guru, tetapi orang tua bagi kami,” tutur Yonas Wanimbo, seorang tokoh kampung.

Paul juga dikenal sebagai sosok yang menetap bersama masyarakat, makan makanan yang sama, dan menempuh rute yang sama sulitnya setiap hari. Keuletan dan kesederhanaannya menjadikan ia figur yang dihormati.


Tetap Mengabdi Meski Usia Senja

Kini, di usia yang sudah melewati tujuh dekade, Paul tetap setia mengajar dan membina warga. Meski kemampuan fisiknya mulai menurun, semangatnya tak pernah padam.

Kalau saya pulang sekarang, rasanya justru meninggalkan rumah sendiri. Hidup saya sudah di sini, bersama mereka,” katanya.

Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan gereja beberapa kali memberi penghargaan atas dedikasinya. Namun bagi Paul, penghargaan terbesar adalah melihat generasi muda Papua tumbuh dan maju.


Pengabdian yang Menginspirasi

Kisah Paul Sudiyo menjadi cerminan bahwa pelayanan di daerah pedalaman bukan hanya soal pekerjaan, tetapi panggilan kemanusiaan. Selama 48 tahun, pengabdiannya membentuk fondasi pendidikan bagi ribuan anak Papua.

Jika ada yang bertanya apa yang membuat saya bertahan? Jawabannya sederhana: cinta. Saya mencintai mereka, dan mereka mencintai saya,” ucap Paul.

Perjalanan panjangnya menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil dan hati yang setia.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.